Misteri Dibalik “Tindihan” yang Kita Rasakan Saat Tidur

Tindihan terjadi ketika bangun tidur merasa tertindih sesuatu. Bangun dari tidur, kita tidak mampu berteriak, akan minta tolongpun kita tak mampu. Jika sudah begini kerap diikuti rasa dingin yang menjalar dari ujung kaki menuju ke seluruh tubuh.

Untuk bisa bangun, upaya yang bisa kita lakukan dengan menggerakkan ujung kaki, tangan atau kepala sekencang-kencangnya hingga seluruh tubuh bisa digerakkan kembali. Tak jarang dalam keadaan seperti ini kita merasakan sakit yang luar biasa.

Banyak mitos yang berhubungan dengan tindihan, namun secara medis, tindihan adalah sleep paralysis, yaitu keadaan orang tidur atau bangun tidur merasa sesak napas seperti dicekik, dada sesak, badan sulit bergerak dan sulit berteriak. Sleep paralysis sering disebut dengan tidur lumpuh.

Tindihan bisa terjadi pada laki-laki maupun wanita. Usia awal orang mengalami tindihan antara 14-17 tahun. Bisa terjadi dalam hitungan detik atau menit.

Keadaan yang mengiringi tindihan seperti halusinasi, seperti melihat sosok atau bayangan hitam di sekitar tempat tidur, sehingga tindihan kerap dihubungkan dengan kejadian mistis.

Sleep paralysis adalah sejenis halusinasi karena adanya malfungsi tidur di tahap REM (Rapid Eye Movement).

Sebagai catatan, berdasarkan gelombang otak, tidur terbagi dalam empat tahap:
– tidur setengah sadar,
– tahap tidur lebih dalam,
– tidur paling dalam dan
– tahap REM.

Saat kondisi tubuh terlalu lelah tidur melompat dari keadaan sadar (hendak tidur) ke tahap paling ringan langsung melompat ke mimpi atau (REM).
Ketika otak terbangun dari tahap REM, tubuh belum maka sleep paralysis terjadi.
Sleep paralysis bisa disebabkan oleh sesuatu yang tidak dapat dikontrol. Berakibat pada munculnya stres dan terbawa ke dalam mimpi.

Meski biasa terjadi, jangan anggab remeh sleep paralysis, karena bisa juga merupakan pertanda narcolepsy (serangan tidur mendadak tanpa tanda-tanda mengantuk), mendengkur (sleep apnea), kecemasan atau depresi.

Sleep paralysis kerap terjadi pada orang dengan tidur terlentang, sehingga tindakan pencegahan bisa kita lakukan dengan mengubah-ubah posisi tiidur.
Bila tindihan sudah disertai gejala lain, sudah semestinya kita ke dokter. Sebelum ke dokter, sebaiknya kita membuat catatan tentang:
– pola tidur selama beberapa minggu, bisa kita atasi dengan mengurangi pemicunya.
– bila keadaan kita karena terlalu lelah, sudah semestinya kita beristirahat.

Perkara mitos tentang tindihan, ternyata bukan masyarakat kita yang mempercayainya. Beberapa negara di belahan bumi ini juga mempunyai mitos yang dihubungkan dengan tindihan. Tak ada salahnya kita tahu tentang mitos yang ada tentang tindihan, namun perkara percaya atau tidak itu urusan kita masing-masing. Dengan mengetahui penjelasan illmiah tentang tindihan di atas, tentu kita tahu langkah apa yang mesti kita perbuat bila kerap terkena tindihan bukan !

Sumber: id.shvoong.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s